Senin, 20 Desember 2010

Perencana Keuangan Hargai Diri dengan Kewajiban Menabung

Jakarta - Tak jarang kita mendengar penolakan, seperti: "Aduh, mahal sekali biaya di calon sekolah pilihanmu Nak. Nampaknya kami tak mampu membiayainya. Kamu tahu kan ? Ayah tidak punya uang sebanyak itu. Pilih saja sekolahan yang lebih murah".

Sudah dapat ditebak suasana hati si anak, yang kecewa tidak mendapatkan apa yang didambakannya. Tidak jarang pula sang Ayah menyesal. "Kalau saja aku menabung sejak dulu, tentu anakku tak perlu kecewa seperti ini". Nasi sudah menjadi bubur.
 
Masihkah ada solusi untuk tidak membuat kecewa si anak? Ada. Pinjam uang. Yang berarti utang. Saya rasa para pembaca setuju, bahwa hal ini hanyalah solusi semu alias memindahkan masalah. Selesai masalah untuk menghindari kekecewaan si kecil, pindah menjadi masalah dikejar hutang, yang tidak jarang berujung pada masalah besar dalam kehidupan rumah tangga kita.  Sebuah bencana bukan?

Betapa hal 'kecil' yang disebut menabung dapat membuat perbedaan dalam hidup kita. Sayangnya kesadaran menabung dimasyarakat kita dewasa ini masih minim. Berbagai macam alasan muncul disaat sebenarnya kita punya kemampuan untuk menabung, seperti : "Masih banyak keperluan, mudah-mudahan nanti ada sisanya, baru saya tabung". 

Penundaan seperti ini sering berujung pada: tidak pernah sempat menabung. Waktu terus berjalan, tanpa sadar sampailah kita pada masa untuk tinggal 'menyesal'. Apakah hal seperti ini akan Anda biarkan tejadi dalam hidup Anda?

Para pembaca yang budiman, mengutip kata bijak dari Mother Teresa: 'Yesterday is gone. Tomorrow has not yet come. We have only today. Let us begin'. Marilah mulai menabung sekarang.

Bagaimana caranya untuk memastikan bahwa aktivitas menabung kita akan memberikan hasil yang optimal? Pada saat kita menerima pendapatan rutin setiap bulan, sudah barang tentu akan mengalir menjadi pengeluaran rutin bulanan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (sebut saja Belanja), membayar kewajiban seperti tagihan kartu kredit, cicilan rumah, cicilan kendaraan dll, serta mengalokasikan dana untuk tabungan. Mana dulu yang harus dibayar? . 
Mari kita tinjau beberapa pola aliran dana rutin berikut ini:

Pola 1.

Pendapatan -> Belanja -> Kewajiban -> Menabung

Pada pola yang pertama ini, belanja didahulukan, kemudian baru membayar kewajiban dan sisanya untuk menabung. Kebanyakan dari kita menggunakan pola ini dalam kehidupan sehari-hari. Kelebihan pada pola ini adalah semua kebutuhan belanja anda dan kewajiban(atau sebagian) anda terpenuhi. Namun biasanya kebutuhan belanja bervariasi, mulai dari kebutuhan primer sampai barang yang diinginkan namun tidak dibutuhkan terbeli. 

Kemungkinan Anda membelanjakan semua dana yang ada sangat tinggi sehingga tidak semua kewajiban terbayar dan tidak ada sisa lagi untuk menabung. Kecuali Anda adalah orang yang sangat hemat dalam belanja. 

Untuk jangka panjang, pola ini akan sangat sulit dalam mendapatkan arus kas positif, bahkan akan menjadi beban bulan berikutnya (yang sebetulnya tidak perlu terjadi), mengingat masih ada tunggakan cicilan yang tentunya akan terkena bunga majemuk (bunga berbunga).

Pola 2.

Pendapatan -> Kewajiban -> Belanja -> Menabung

Pada pola kedua ini, karena kewajiban dibayar lebih dulu, maka Anda akan terhindar dari beban biaya yang tidak perlu dalam bentuk beban bunga majemuk akibat penundaan pembayaran kewajiban tersebut di bulan berikutnya. Namun tetap saja kemungkinan Anda akan menghabiskan dana yang tersisa untuk belanja masih sangat tinggi. Sehingga tidak ada sisa untuk menabung.

Pola 3.

Pendapatan -> Menabung -> Kewajiban -> Belanja 

Menurut hemat saya, pola ketiga ini adalah yang terbaik. Artinya, Anda mewajibkan diri untuk memotong pendapatan Anda untuk menabung lebih dulu. Ada baiknya Anda merubah "Mind set" tentang tabungan ini dengan konsep "Paying yourself first" sebagai prinsip utama dalam buku "The Richest Man in Babylon" karangan George S. Clason (baca deh!). Dalam buku ini memberikan inspirasi bahwa anda sebaiknya menghargai segala usaha anda selama ini dengan membayar diri sendiri paling tidak (minimal) 10 % dari pendapatan Anda dalam bentuk tabungan wajib Anda sebelum membayar kewajiban Anda dan membelanjakannya. 

Hal ini akan memberikan keleluasaan bagi peningkatan aset Anda melalui dana tabungan yang terkumpul. Dana tabungan tersebut akan menjadi "Income Generating Asset" atau Aset yang memiliki kemampuan mengembangkan dirinya sendiri yang akan memberi Anda "passive Income". Tentu besarnya pendapatan pasif ini bergantung pada instrumen keuangan yang anda pilih untuk menempatkan dana tabungan Anda (bacalah artikel-artikel kami sebelumnya). 

Setelah itu bayar dulu semua kewajiban Anda. Dan selanjutnya Anda bebas berbelanja tanpa kekhawatiran. (cukup ngga cukup, harus cukup!). 

Dengan pola yang ketiga ini akan memberikan kepastian akan bertambahnya aset Anda, sesuai dengan tujuan-tujuan financial yang Anda rencanakan. Terlebih lagi, kalimat penolakan (karena ngga punya uang) pada paragraph pertama artikel ini tidak akan pernah terjadi. 

Para pembaca yang bijak, tentu Anda setuju bahwa menabung itu wajib hukumnya. Mari kita lakukan dengan benar, dengan memprioritaskannya sebagai hal pokok dalam kehidupan kita. Dengan ditambah kedisiplinan dan persistensi dalam menabung tentu akan lebih memberikan kepastian atas pencapaian tujuan-tujuan financial Anda dimasa depan. Semoga bermanfaat.
 
Budi Cahyadi MM, CFP®, TGRM Perencana Keuangan.

Rights Issue Disetujui, FREN Bisa Akuisisi Smart Telecom

Jakarta - Pemegang saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) menyetujui rencana perusahaan untuk melakukan penawaran umum saham terbatas atau rights issue dan penerbitan waran. Dana hasil rights issue bakal digunakan untuk mengakuisisi 50% lebih saham Smart Telecom.

Demikian disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan Chris Taufik dalam siaran pers, Senin (20/12/2010).

"Pemegang saham menerima baik dan menyetujui rencana perseroan untuk melakukan pembelian saham PT Smart Telecom," ujar Chris.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tersebut dilakukan hari ini, dan dihadiri oleh 65,58% pemegang saham.

Dalam RUPSLB tersebut juga disetujui penambahan modal ditempatkan dan disetor sehubungan dengan pelaksanaan rights issue, waran, dan obligasi wajib konversi sehingga modal ditempatkan dan disetor yang semula Rp 3,1 triliun menjadi setinggi-tingginya sebesar Rp 14,019 triliun.       

Seperti dikabarkan sebelumnya, FREN akan menjalankan aksi rights issue dengan menerbitkan saham baru sebanyak 74.072.026.868 lembar di harga Rp 50 per saham, dengan total dana Rp 3,703 triliun.

Yang menjadi standby buyer adalah PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), PT Wahana Inti Nusantara (WIN), dan PT Global Nusa Data (GND), di mana mereka merupakan pemegang saham pengendali di PT Smart Telecom.

Dana hasil rights issue akan digunakan FREN untuk mengakuisisi 50% lebih saham Smart Telecom senilai Rp 3 triliun. Usai rights issue, ketiga anak usaha Sinarmas akan menjadi pengendali FREN. Sedangkan Smart Telecom akan dikuasai FREN lebih dari 50%.




detik

Premium Dibatasi, Pengusaha SPBU Cemas Pertamax Tak Laku

Jakarta - Kebijakan pembatasan konsumsi BBM subsidi yang dilakukan mulai April 2010 membuat pengusaha SPBU Pertamina cemas. Sebab orang yang berpindah dari premium belum tentu mau membeli pertamax.

"Jadi kan kalau nanti ada pembatasan ini, berarti kan akan ada kapasitas cadangan pertamax yang lebih besar ketimbang Premium. Nah, berarti kan kita (SPBU lokal) akan menjual pertamax lebih banyak, tapi masalahnya kan pembeli belum tentu mau beli pertamax," tutur Anggota DPP Departemen SPBU Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Syarif Hidayat saat ditemui di peresmian Terminal Auto System Depo Pertamina Plumpang, Jakarta, Senin (20/12/2010).

Syarif mengatakan pemberlakukan kebijakan pembatasan BBM subsidi akan meningkatkan persaingan antara SPBU Pertamina dengan SPBU asing. Ini membuat pengelola SPBU Pertamina harus segera berbenah diri agar tidak ditinggal pelanggan.

"Dengan pembatasan BBM subsidi ini, jika jadi diberlakukan, kemungkinan kita (SPBU Pertamina) kehilangan potensi penjualan premium hingga 53% dari omset.

Diakui Syarif, besar sekali kemungkinan mereka yang beralih dari premium akan lari ke SPBU asing.

"Kan tidak berarti, mentang-mentang dibatasi mereka nanti akan mau membeli pertamax. Kan ada kemungkinan juga mereka akan beralih ke kompetitor (SPBU Asing)," imbuh Syarif.

Karena itu Hiswana menekankan agar melakukan peningkatan dari segi pelayanan, infrastruktur, serta fasilitas SPBU agar dapat bersaing dengan SPBU asing.

"Pembenahan ini perlu dilakukan oleh kita agar bisa bersaing dengan kompetitor. Kan kita tahu sejauh ini banyak kompetitor yang selalu utamakan pelayanan," ujar Syarief.

Seperti diketahui, rencana pembatasan BBM Bersubsidi akan diberlakukan pada akhir kuartal pertama tahun 2011 jika disetujui oleh komisi VII DPR RI.

Jadi mulai April 2011, mobil plat hitam dan plat merah tak boleh lagi mengkonsumsi BBM subsidi. Hanya kendaraan roda dua, roda tiga, angkutan umum, serta nelayan yang diperbolehkan pakai premium atau solar.

nina wang

Nina Wang (terlahir Kung Yu Sum (bahasa Tionghoa: 龔如心, pinyin: Gŏng Rúxīn) (29 September 1937[1] – 3 April 2007) adalah perempuan Asiaterkaya, dengan harta kekayaan bersih diperkirakan berjumlah AS$4,2 milyar pada saat kematiannya[2]. Wang adalah janda seorang jutawan kimia Hong Kong Teddy Wang (Wang Teh Huei, 王德輝), yang hilang pada 1990 setelah diculik.

Kung Yu Sum dilahirkan di Shanghai. Di sana ia menjadi teman bermain masa kecil Teddy Wang, anak lelaki Wang Din-shin, yang memiliki bisnis cat dan bahan kimia. Keluarga Wang pindah ke Hong Kong, dan bisnisnya kemudian dinamai Chinachem Group, dan akhirnya menjadi salah satu perusahaan terbesar dan paling kuat di Hong Kong yang berbasiskan divisi farmasi yang menguntungkan. Pada 1948, ketika ia berusia 11 tahun dan Teddy 15 tahun, mereka memperbarui persahabatan mereka, dan pada 1955 mereka menikah.[3]
Nina dijuluki "Si Manis Kecil" ("Siu Tim Tim" atau "小甜甜" dalam bahasa Kantonis). Ia terkenal karena dua ekor kudanya dan kegemarannya mengenakan pakaian tradisional Tionghoa.
Nina Wang adalah perempuan terkaya Asia, dan orang ke-35 terkaya di seluruh Asia, dengan jumlah kekayaan AS$4,2 milyar, menurut majalah Forbes. Itu berarti kekayaannya melampaui kekayaan Ratu Britania.
Pada 4 April 2007Chinachem mengumumkan bahwa Wang meninggal dunia di Rumah Sakit dan Sanatorium Hong Kong pada hari sebelumnya. Meskipun sebab kematiannya tidak diungkapkan, ada berbagai laporan yang menunjukkan bahwa ia mungkin menderita kanker kandungan.[4]
Pada 13 April 2007, Chinachem mengukuhkan di berbagai surat kabar setempat di Hong Kong bahwa Wang mula-mula didiagnosis menderita penyakit yang tidak diungkapkan pada Februari 2004. Ia segera terbang ke Amerika Serikat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut pada sebuah rumah sakit yang berafiliasi dengan Universitas Harvard. Pada masa perawatannya yang berlangsung selama 3 tahun 2 bulan, berbagai pengobatan paling hebat telah dicoba, namun demikian akhirnya Wang takluk.

[sunting]